Selamat Jalan Bulik..
Pungkuran tanpamu adalah bukan Pungkuran.
Seperti itulah kehilanganku akanmu. Kita memang tidak sedarah. Tapi kedekatanku padamu melebihi kedekatanku pada si om yang sedarah denganku. Kau yang selalu giat membantu dalam kegiatan apapun. Kau yang mengurus cah cilikku sebulan penuh ketika kami dilanda kekhawatiran. Kau yang selalu memberi nasehat-nasehat kepadaku. Kau yang selalu bercucuran airmata ketika mengeluarkan semua uneg2mu tentang si om dan anak-anakmu. Kau yang selalu tanpa pantang menyerah memaksa aku untuk makan. Kau yang selalu memberi roti dan kue-kue buatanmu pada hari Lebaran. Kau yang..ahh..terlalu banyak.
Kabar kepergianmu yang mendadak kudapat dari adik yang telpon sambil nangis2 ketika di panti wilasa. aku yang saat itu masih asyik bercanda dengan cah cilik masih sampai Pemalang dalam perjalanan ke semarang. Seketika aku terdiam. mataku menggenang. hampir meledak. Tapi kutahan. Aku tahu, dalam beberapa tahun ini, kau sudah rajin shalat, dzikir, shalat malam. dan kau yang paling rajin mengikuti pengajian, majlis ta’lim baik di kampung, Masjid Besar Kauman ataupun Masjid Agung Jawa Tengah. Setiap malam jumat pun kau hampir tak pernah absen mengikuti jamaah asmaul husna. Kau pun paling senang mengikuti ziarah-ziarah. Aku hanya bisa berdoa, semoga kematianmu adalah kematian yang indah, yang kau idam-idamkan. Kepergian untuk menuju Rasul dan Tuhanmu. Walaupun anak-anakmu masih membutuhkan kasih sayangmu. Tapi lihatlah, mereka kini sudah bisa bercanda. Semoga keikhlasan mereka melepas kepergianmu semakin membuatmu tenang di alam sana. Lihatlah si sulungmu yang pada hari penguburanmu begitu tertekan, hingga aku harus menahan berat tubuhnya agar tidak jatuh. Dia berteriak, "ibuuu…ibu…. " dan seketika teriakan itu berganti, mas, tanganku rak iso gerak, kaku kabeh. kemudian disusul, "mas tanganku sing kiwo kaku kabeh rak iso gerak" belum habis aku pijat kedua tangannya, dia sudah berteriak lagi, "mas guluku rak iso digerakke, kaku kabeh," ..Ya Allah beri ketabahan pada adikku ini. Si sulungmu yang sebetulnya menyimpan satu kejutan untukmu yang masih dipersiapkan sebagai hadiah untukmu. Sebuah studio foto dan salon! Ya, sebentar lagi dia akan mengelola sebuah studio foto dan salon sendiri. Sebuah kejutan yang tak akan kau lihat dan nikmati. tapi aku yakin kau di sana akan bangga dengan anakmu itu. Dan lihatlah ketika penengahmu, yang biasanya begitu brutal dan kasar. Pada hari penguburanmu, dia tampil begitu tegar penuh kasih sayang kepada saudara-saudaranya. Air mataku tumpah ketika mayatmu diatas keranda diusung menuju masjid, si sulungmu meraung-raung, tak kusangka penengahmu yang biasanya begitu galak kepada kakaknya menghampiri, berlutut dan memeluk kakaknya sambil berucap, "istighfar mas, istighfar, ikhlaske ya ibu..Allahu akbar". Kemudian dia berlari mengejar keranda yang berisi mayatmu. Dan si bungsumu yang biasanya begitu manja kepadamu, tampaknya juga sudah bisa mengikhlaskan kepergianmu.
Bulik, aku maafkan segala kesalahan atau apa pun kesusahan-kesusahan yang pernah kau lakukan kepadaku. aku ikhlaskan. begitu juga sebaliknya, aku harap kau disana bisa memaafkan segala kesalahanku. Mungkin ini jalan yang terbaik untukmu. lepas dari segala masalahmu, lepas dari segala beban di pundakmu. dan kebaikanmu tak sempat tercemari oleh keburukan2 yang akan kau lakukan.
Pak Haji dalam sambutan ketika melepas kepergianmu pun tak kuasa menahan tangis. Dia menyebut kepergianmu adalah sebagai orang baik. sebagai orang yang mencintai agamanya, Tuhannya, dan rasulnya. Orang yang selalu mendekati ulama. Orang yang selalu hadir dalam setiap pengajian dan majlis-majlis ta’lim dan ringan tangan dalam membantu kegiatan itu. Penjaga Masjid Besar yang tak mengenalmu pun, tak kuasa menahan tangis ketika mentalqin dalam penguburanmu. beliau bicara lirih, sambil terisak karena sering melihatmu dalam pengajian-pengajian dan di masjid Besar Kauman dan Masjid Agung Jateng.
Selamat Jalan, Bulik…