Selamat Jalan…

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..hanya itu yang semoat terucap diantara air mata yang mengalir tak kuasa kubendung. Kesedihan yang tak terhingga dan rasa tak percaya ketika berita itu kuterima.

Engkau memang bukan orang tua kandung, tapi engkau tetaplah orang tuaku. Orang yang kujadikan guru, panutan, tauladan baik dalam agama, perilaku, tindak tanduk dan sopan santun, semuanya.

Masih kuingat, sekitar 5 tahunan yang lalu, ketika kau panggil aku ke ruanganmu. Secara pribadi, aku kau wejang. memang hanya beberapa menit. tapi dalam beberapa menit itu, aku merasakan perhatian yang berlebih darimu. tak kusangka,tak kuduga. Ternyata engkau begitu perhatian kepadaku, kepada keluargaku. menyayangi kami seperti keluargamu sendiri. Petuah dan nasehatmu ketika itu, akan selalu kuingat dan kulaksanakan, insya Allah.

Dan beberapa minggu yang lalu. masih terbayang jelas, ketika baju yang sudah kau pakai, tiba-tiba kau lepas dan kau berikan padaku. Hampir tidak percaya aku menerimanya. Gembira sekali aku menerimanya. Masih kuingat ketika kawan-kawan iri melihat hal itu. " Tidak sembarang orang menerima baju dari beliau, apalagi yang baru dipakai" kata seorang sesepuh. Aku bangga menerima baju itu, dan langsung kupakai.

Kemarin, baju itu kupakai lagi untuk mengantarkan jenazahmu ke peristirahatanmu yang terakhir. Perjalanan beberapa jam tak sebanding dengan keinginanku yang ingin meyentuhmu untuk terakhir kali. Namun setibanya disana, keinginanku untuk mencium tanganmu tak kesampaian, ribuan pelayat telah menyemut, dan aku tidak bisa masuk rumah untuk menyalati dan mencium tanganmu.

Panas dan keringat yang mengalir tak kuhiraukan demi untuk mengantarkanmu untuk dishalatkan dan disemayamkan. Ribuan orang menangis, berebut ikut mengangkat kerandamu seraya meneriakkan asma Allah. Allahu akbar, dada ini semakin sesak, tak kuasa kubendung lagi, air mata ini mengalir kembali membasahi wajahku.

Mungkin secara fisik kita pernah dekat selama beberapa tahun, tapi keseganan dan penghormatanku kepadamu menyebabkan aku enggan untuk berdekat-dekatan denganmu. Tapi semoga engkau tahu, betapa aku mencintai dan menghormatimu layaknya aku mencintai dan menghormati orang tuaku sendiri.

Selamat jalan Bapak, selamat berjumpa dengan kekasihmu, penciptamu, Allah swt dan junjunganmu, nabimu Muhammad saw. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan-kesalahanmu, dan menempatkanmu di sisi-Nya, di surga-Nya, amin.

Namamu, akan selalu hidup dan kucatat dengan tinta emas di hati ini, sampai kapanpun. Semoga aku bisa meneruskan perjuanganmu, bisa meladani kesederhanaanmu, kejujuranmu, kerendahhatianmu, akhlaqmu yang karimah, sopan santunmu, dan semua yang baik yang pernah kau ajarkan kepadaku.

Leave a Reply